Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 6. Tampilkan semua postingan

HIPERTENSI & HIPOTENSI

Tekanan darah adalah 1 dari 4 komponen utama tanda-tanda vital. Jika seseorang sedang mengalami fase-fase kritis, tekanan darah adalah tolak ukur utama dalam menentukan keadaan seseorang. 
Kebanyakan orang mengetahui, bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang sangat berbahaya, namun bagaimana dengan tekanan darah rendah? 
Ternyata keduanya bisa menjadi pertanda bahwa tubuh sedang mengalami kegawatan dan keduanya merupakan manifestasi klinis yang jika tidak ditangani dengan benar, dapat berakibat fatal.
Hipertensi adalah silent killer
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah masalah yang umum sekali terjadi pada masyarakat. Berdasarkan tingkat kejadian yang ada,bersamaan dengan penyakit akibat pola hidup seperti diabetes dan stroke, angka kejadian hipertensi semakin meningkat dari tahun ke tahun. 
Selain itu banyak orang yang menderita hipertensi  belum mendapatkan penanganan adekuat, atau mungkin juga karena hipertensi adalah silent killer. Atau ada yang sudah diobati namun kondisinya masih belum membaik sesuai dengan yang diharapkan.
Yang dikhawatirkan untuk orang-orang yang menderita hipertensi adalah penyakit penyerta dan komplikasi yang dihasilkan dari gejala hipertensi jangka panjang. 
Jika hipertensi sudah mencapai tingkat tertentu, maka hipertensi akan menimbulkan stroke,gagal jantung yang dapat meningkatkan tingkat kematian penderitanya.
Banyak orang yang mengenal istilah hipertensi, namun apakah Anda mengerti apa itu pengertian hipertensi? 
Secara umum, tekanan darah normal pada seseorang adalah 120/80mmHg, jika tekanan darah seseorang melebihi dari 140/90 umumnya sudah digolongkan sebagai penderita hipertensi. Tapi secara medis, penggolongan hipertensi tidak sesederhana itu.
Derajat Hipertensi menurut JNC 7
Derajat hipertensi dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan organisasi kesehatan yang mengurusnya. 
Anda harus mengetahui derajat hipertensi yang biasanya terjadi agar Anda lebih berhati-hati saat memeriksa tekanan darah Anda. Apakah termasuk hipertensi atau bukan. 
Untuk menilai apakah seseorang menderita penyakit hipertensi atau tidak, Anda harus mengacu pada suatu standar nilai ukur dari tekanan darah.
Ada beberapa macam klasifikasi hipertensi yang digunakan di masing-masing negara. Indonesia menggunakan klasifikasi dari JNC 7 yang mana menggolongkan hipertensi sebagai berikut :
Klasifikasi Tekanan Darah
Tekanan Darah Sistolik (mmHg)
Tekanan Darah Diastolik (mmHg)
Normal
< 120
< 80
Prehipertensi
120 – 139
80 – 89
Hipertensi derajat 1
140 – 159
90 – 99
HIpertensi derajat 2
> 160
> 100
Selain penggolongan hipertensi seperti di atas, ada beberapa penggolongan hipertensi berdasarkan tekanan darahnya seperti :
  • Hipertensi Urgensi, yaitu suatu keadaan dimana tekanan darah sudah melebihi 160/100mmHg (biasanya lebih dari 180/110) tanpa adanya tanda-tanda kerusakan organ-organ tubuh.
  • Hipertensi Emergensi, yaitu suatu keadaan dimana tekanan darah sudah melebihi 180/110 tapi belum disertai adanya tanda-tanda kerusakan organ.
Bahaya akibat Hipotensi
Tekanan darah rendah ditandai dengan tekanan sistolik (bacaan atas) < 90 mmHg dan / atau tekanan diastolik (bacaan bawah) < 60 mmHg. 
Tekanan darah rendah akan menimbulkan hambatan atau pembatasan terhadap jumlah darah yang dialirkan ke otak dan organ vital lainnya seperti ginjal sehingga mengakibatkan kepala terasa melayang dan pusing serta tubuh terasa tidak stabil atau mudah goyah, bahkan sampai kehilangan kesadaran.
Walaupun tidak sepopuler tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah tetap harus diamati dan ditangani secara adekuat karena jika tidak ditangani, hipotensi bisa berkembang menjadi gagal jantung, stroke bahkan menyebabkan syok dan kematian.
Tekanan darah normal pada anak-anak
Apakah tekanan darah pada anak-anak sama dengan tekanan darah pada orang dewasa? Jawabannya tentu saja tidak. Tekanan darah normal pada anak-anak dibawah 18 tahun, umumnya lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa. 
Pada bayi baru lahir rata-rata 60/40,bayi hingga usia 1 tahun tekanan darah normal berkisar antara 90/60 mm/Hg. Sedangkan pada anak balita, tekanan darah 100-115 mmHg. Untuk itu, saat mengukur tekanan pada bayi, atau anak-anak, jangan menggunakan patokan JNC 7, karena JNC 7 diperuntukan bagi orang dewasa.
Tekanan darah normal pada ibu hamil
Ibu hamil mensuplai darah untuk 2 orang, oleh karena itu, tentu saja ibu hamil akan memiliki tekanan darah yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. 
Untuk wanita hamil perlu diingat 2 hal, Tekanan darah di bawah 110/75 akan dianggap sebagai tekanan darah rendah atau hipo-tension sementara tekanan darah di atas 140/90mmHg tetap dianggap sebagai tekanan darah tinggi atau hipertensi
Pada wanita hamil dikenal istilah preeklampsia yaitu suatu keadaan hipertensi pada wanita hamil disertai dengan adanya kandungan protein pada urin. 
Jika tidak dikontrol dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan eklampsia atau kondisi kejang-kejang yang disebabkan oleh hipertensi yang dimiliki selama masa kehamilan.
Tekanan darah normal pada Lansia
Pada Lansia kriteria tekanan darah bisa sedikit berubah, umumnya tekanan darah normal pada lansia kurang dari 140/90 atau pada beberapa lansia dengan kondisi medis tertentu, tekanan sama dengan dibawah 90/60 mmHg masih dianggap normal.
Mempertahankan tekanan darah dalam batas normal adalah hal yang wajib dilakukan oleh semua orang. Meski tekanan darah tinggi dan tekanan darah rendah bisa mengancam kapan saja. 
Ada hal yang bisa anda lakukan untuk menormalkan tekanan darah yaitu dengan cara memperhatikan makanan yang masuk ke tubuh dan menghindari makanan yang bisa memicu naik dan turunnya tensi darah serta olahraga teratur.

ANEMIA

Kurang darah atau anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen, sehingga membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah.
Anemia dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, dengan tingkat keparahan yang bisa ringan sampai berat. Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (bagian utama dari sel darah merah yang mengikat oksigen) berada di bawah normal.
anemia - alodokter
Orang dewasa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya di bawah 14 gram per desiliter untuk laki-laki, dan di bawah 12 gram per desiliter untuk wanita. Untuk mengatasi anemia tergantung kepada penyebab yang mendasarinya, mulai dari konsumsi suplemen zat besi, transfusi darah, sampai operasi.

Penyebab Anemia

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin. Akibatnya, sel-sel dalam tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan tidak berfungsi secara normal.
Secara garis besar, anemia terjadi akibat tiga kondisi berikut ini:
  • Produksi sel darah merah yang kurang.
  • Kehilangan darah secara berlebihan.
  • Hancurnya sel darah merah yang terlalu cepat.
Berikut ini adalah jenis-jenis anemia yang umum terjadi berdasarkan penyebabnya:
1. Anemia akibat kekurangan zat besi
Kekurangan zat besi membuat tubuh tidak mampu menghasilkan hemoglobin (Hb). Kondisi ini bisa terjadi akibat kurangnya asupan zat besi dalam makanan, atau karena tubuh tidak mampu menyerap zat besi, misalnya akibat penyakit celiac.
2. Anemia pada masa kehamilan
Ibu hamil memiliki nilai hemoglobin yang lebih rendah dan hal ini normal. Meskipun demikian, kebutuhan hemoglobin meningkat saat hamil, sehingga dibutuhkan lebih banyak zat pembentuk hemoglobin, yaitu zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Bila asupan ketiga nutrisi tersebut kurang, dapat terjadi anemia yang bisa membahayakan ibu hamil maupun janin.
3. Anemia akibat perdarahan
Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan berat yang terjadi secara perlahan dalam waktu lama atau terjadi seketika. Penyebabnya bisa cedera, gangguan menstruasi, wasir, peradangan pada lambung, kanker usus, atau efek samping obat, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
4. Anemia aplastik
Anemia aplastik terjadi ketika kerusakan pada sumsum tulang membuat tubuh tidak mampu lagi menghasilkan sel darah merah dengan optimal. Kondisi ini diduga dipicu oleh infeksi, penyakit autoimun, paparan zat kimia beracun, serta efek samping obat antibiotik dan obat untuk mengatasi rheumatoid arthritis.
5. Anemia hemolitik
Anemia hemolitik terjadi ketika penghancuran sel darah merah lebih cepat daripada pembentukannya. Kondisi ini dapat diturunkan dari orang tua, atau didapat setelah lahir akibat kanker darah, infeksi bakteri atau virus, penyakit autoimun, serta efek samping obat-obatan, seperti paracetamol, penisilin, dan obat antimalaria.
6. Anemia akibat penyakit kronis
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses pembentukan sel darah merah, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa di antaranya adalah penyakit Crohn, penyakit ginjal, kanker, rheumatoid arthritis, dan HIV/AIDS.
7. Anemia sel sabit (sickle cell anemia)
Anemia sel sabit disebabkan oleh mutasi (perubahan) genetik pada hemoglobin. Akibatnya, hemoglobin menjadi lengket dan berbentuk tidak normal, yaitu seperti bulan sabit. Seseorang bisa terserang anemia sel sabit apabila memiliki kedua orang tua yang sama-sama mengalami mutasi genetik tersebut.
8. Thalasemia
Thalasemia disebabkan oleh mutasi gen yang memengaruhi produksi hemoglobin. Seseorang dapat menderita thalasemia jika satu atau kedua orang tuanya memiliki kondisi yang sama.

Gejala Anemia

Gejala anemia sangat bervariasi, tergantung pada penyebabnya. Penderita anemia bisa mengalami gejala berupa:
  • Lemas dan cepat lelah
  • Sakit kepala dan pusing
  • Kulit terlihat pucat atau kekuningan
  • Detak jantung tidak teratur
  • Napas pendek
  • Nyeri dada
  • Dingin di tangan dan kaki
Gejala di atas awalnya sering tidak disadari oleh penderita, namun akan makin terasa seiring bertambah parahnya kondisi anemia.

Kapan harus ke dokter

Periksakan diri Anda ke dokter apabila merasa cepat lelah atau mengalami gejala anemia yang makin lama makin memburuk.
Bila Anda menderita anemia yang memerlukan pengobatan jangka panjang atau bahkan rutin menerima transfusi darah, maka Anda perlu melakukan kontrol rutin ke dokter untuk memantau perkembangan penyakit.
Konsultasikan dengan dokter jika Anda mengalami kondisi yang dapat menimbulkan anemia, seperti penyakit ginjal, gangguan menstruasi, kanker usus, atau wasir.
Bagi ibu hamil, menurunnya Hb merupakan hal yang normal. Untuk menjaga kesehatan ibu dan janin, periksakan kehamilan secara rutin ke dokter kandungan. Dokter kandungan akan memberikan suplemen untuk mencegah anemia saat kehamilan.
Bila Anda menderita kelainan genetik yang menyebabkan anemia, misalnya thalasemia, atau memiliki keluarga yang menderita penyakit tersebut, disarankan untuk konsultasi dengan dokter sebelum berencana memiliki keturunan.

Diagnosis Anemia

Untuk menentukan apakah pasien menderita anemia, dokter akan melakukan hitung darah lengkap. Dengan memeriksa sampel darah pasien, dokter dapat mengetahui kadar hemoglobin yang terdapat dalam darah.
Kadar hemoglobin normal tergantung pada usia, kondisi, dan jenis kelamin. Seseorang bisa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobin berada di bawah angka berikut:
  • Anak-anak: 11-13 gram per desiliter.
  • Ibu hamil: 11 gram per desiliter.
  • Laki-laki: 14-18 gram per desiliter.
  • Perempuan: 12-16 gram per desiliter.
Melalui tes darah, dokter juga akan mengukur kadar zat besi, vitamin B12, dan asam folat dalam darah, serta memeriksa fungsi ginjal. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab dari anemia.
Selain tes darah, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan lain untuk mencari penyebab anemia, seperti:
  • Endoskopi, guna melihat apakah lambung atau usus mengalami perdarahan.
  • USG panggul, guna mengetahui penyebab gangguan menstruasi yang menimbulkan anemia.
  • Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang, guna mengetahui kadar, bentuk, serta tingkat kematangan sel darah dari ‘pabriknya’ langsung.
  • Pemeriksaan sampel cairan ketuban saat kehamilan guna mengetahui kemungkinan janin menderita kelainan genetik yang menyebabkan anemia.

Pengobatan Anemia

Metode pengobatan anemia tergantung pada jenis anemia yang diderita pasien. Perlu diketahui, pengobatan bagi satu jenis anemia bisa berbahaya bagi anemia jenis yang lain. Oleh karena itu, dokter tidak akan memulai pengobatan sebelum mengetahui penyebabnya dengan pasti.
Beberapa contoh pengobatan anemia berdasarkan jenisnya adalah:
  • Anemia akibat kekurangan zat besi
Kondisi ini diatasi dengan mengonsumsi makanan dan suplemen zat besi. Pada kasus yang parah, diperlukan transfusi darah.
  • Anemia pada masa kehamilan
Kondisi ini ditangani dengan pemberian suplemen zat besi, vitamin B12 dan asam folat, yang dosisnya ditentukan oleh dokter.
  • Anemia akibat perdarahan
Kondisi ini diobati dengan menghentikan perdarahan. Bila diperlukan, dokter juga akan memberikan suplemen zat besi atau transfusi darah.
  • Anemia aplastik
Pengobatannya adalah dengan transfusi darah untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, atau transplantasi (cangkok) sumsum tulang bila sumsum tulang pasien tidak bisa lagi menghasilkan sel darah merah yang sehat.
  • Anemia hemolitik
Pengobatannya dengan menghentikan konsumsi obat yang memicu anemia hemolitik, mengobati infeksi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan, atau pengangkatan limpa.
  • Anemia akibat penyakit kronis
Kondisi ini diatasi dengan mengobati penyakit yang mendasarinya. Pada kondisi tertentu, diperlukan transfusi darah dan suntik hormon eritropoietin untuk meningkatkan produksi sel darah merah.
  • Anemia sel sabit
Kondisi ini ditangani dengan suplemen zat besi dan asam folat, cangkok sumsum tulang, dan pemberian kemoterapi, seperti hydroxyurea. Dalam kondisi tertentu, dokter akan memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik.
  • Thalassemia
Dalam menangani thalassemia, dokter dapat melakukan transfusi darah, pemberian suplemen asam folat, pengangkatan limpa, dan cangkok sumsum tulang.

Komplikasi Anemia

Jika dibiarkan tanpa penanganan, anemia berisiko menyebabkan beberapa komplikasi serius, seperti:

Pencegahan Anemia

Beberapa jenis anemia, seperti anemia pada masa kehamilan dan anemia akibat kekurangan zat besi, dapat dicegah dengan pola makan kaya nutrisi, terutama:
  • Makanan kaya zat besi dan asam folat, seperti daging, sereal, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau gelap, roti, dan buah-buahan
  • Makanan kaya vitamin B12, seperti susu dan produk turunannya, serta makanan berbahan dasar kacang kedelai, seperti tempe dan tahu.
  • Buah-buahan kaya vitamin C, misalnya jeruk, melon, tomat, dan stroberi.
Untuk mengetahui apakah asupan nutrisi Anda sudah cukup, berkonsultasilah dengan dokter spesialis gizi. Bila Anda memiliki keluarga penderita anemia akibat kelainan genetik, seperti anemia sel sabit atau thalasemia, konsultasikan dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan, agar kondisi ini tidak terjadi pada anak.

STROKE

Menurut riset kesehatan dasar yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2013, di Indonesia terdapat lebih dari 2 juta penduduk, atau 12 dari 1000 penduduk, menderita stroke dengan persentase terbesar berasal dari provinsi Sulawesi Selatan.
Selain itu, stroke juga merupakan pembunuh nomor 1 di Indonesia, lebih dari 15% kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke. Stroke iskemik memiliki kejadian yang lebih sering dibandingkan dengan stroke hemoragik, namun stroke hemoragik membunuh lebih sering dibandingkan dengan stroke iskemik.
Hipertensi yang diikuti dengan diabetes dan kolesterol tinggi merupakan kondisi yang paling sering meningkatkan risiko terjadinya stroke di Indonesia.

Gejala dan Penyebab Stroke

Gejala stroke dapat berbeda pada tiap penderitanya, tetapi gejala yang paling sering dijumpai adalah:
  • Tungkai mati rasa
  • Bicara menjadi kacau
  • Wajah terlihat menurun
Penyebab stroke sangat bervariasi, mulai dari gumpalan darah pada pembuluh darah di otak, tekanan darah tinggi, hingga pengaruh obat-obatan pengencer darah.
Stroke sangat berisiko dialami penderita tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, berat badan berlebih, dan diabetes. Risiko yang sama juga dapat terjadi pada orang yang kurang olahraga, serta memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok.

Pengobatan dan Pencegahan Stroke

Pengobatan stroke tergantung kepada kondisi yang dialami pasien. Dokter dapat memberikan obat-obatan atau melakukan operasi. Sedangkan untuk memulihkan kondisi, pasien akan dianjurkan menjalani fisioterapi, dan diikuti terapi psikologis apabila diperlukan.
Untuk mencegah stroke, dokter menyarankan untuk:
  • Menerapkan pola makan yang sehat.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Hindari merokok dan mengonsumsi minuman keras.

Komplikasi Stroke

Stroke dapat menyebabkan munculnya berbagai masalah kesehatan lain yang dapat membahayakan nyawa, antara lain:
  • Deep vein thrombosis atau penggumpalan darah di tungkai.
  • Hidrosefalus akibat menumpuknya cairan otak di dalam rongga otak.
  • Disfagia atau gangguan refleks otot saat menelan.
Sumber:https://www.alodokter.com/stroke

- Copyright © belajar bareng yookk - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -