HEPATITIS
Hepatitis
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.
Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis. Wikipedia bukan pengganti dokter. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
| Hepatitis | |
|---|---|
| Klasifikasi dan rujukan luar | |
| Spesialisasi | Gastroenterologi |
| ICD-10 | K75.9 |
| ICD-9-CM | 573.3 |
| DiseasesDB | 20061 |
| MedlinePlus | 001154 |
| MeSH | D006505 |
Hepatitis (plural: hepatitides) adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat ataupun agen penyebab infeksi. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis".
Daftar isi
Penyebab[sunting | sunting sumber]
Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama kelima satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.
Jenis Virus Hepatitis[sunting | sunting sumber]
- Virus hepatitis A
Virus hepatitis A terutama menyebar melalui vecal oral. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.
- Virus hepatitis B
Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan biasanya terjadi di antara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau di antara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual).
Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B. Di daerah Timur Jauh dan Afrika, beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis dan kanker hati.
- Virus hepatitis C
Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C.
- Virus hepatitis D
Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat.
- Virus hepatitis E
Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di negara-negara terbelakang.
- Virus hepatitis G
Jenis baru dari virus hepatitis yang telah terdeteksi baru-baru ini. namun belum terlalu diketahui.
Virus-virus lain yang dapat menyebabkan hepatitis:
Hepatitis A biasanya akan sembuh dengan sendirinya tanpa menjadi kronis. Setelah sembuh, maka akan kebal terhadap Hepatitis A, tetapi tidak kebal terhadap jenis penyakit hepatitis yang lain.
5 persen dari penderita Hepatitis B akan menjadi kronis, karena tidak ditangani dengan baik.
Pada pemakai narkoba suntikan yang menggunakan jarum bersama-sama yang marak pada masa lampau, maka 18 persen tertular Hepatitis B, 40 persen tertular HIV dan 70 persen tertular Hepatitis C. Jadi Hepatitis C sangat mudah menular melalui transfer cairan (virulen).
Penderita Hepatitis C sebenarnya hanya 0,8 persen, tetapi sebagian besar akan menjadi kronis, sehingga jumlah penderita kronisnya hampir sama dengan penderita Hepatitis B kronis, yaitu sekitar 1 juta orang.[1]
5 persen dari penderita Hepatitis B akan menjadi kronis, karena tidak ditangani dengan baik.
Pada pemakai narkoba suntikan yang menggunakan jarum bersama-sama yang marak pada masa lampau, maka 18 persen tertular Hepatitis B, 40 persen tertular HIV dan 70 persen tertular Hepatitis C. Jadi Hepatitis C sangat mudah menular melalui transfer cairan (virulen).
Penderita Hepatitis C sebenarnya hanya 0,8 persen, tetapi sebagian besar akan menjadi kronis, sehingga jumlah penderita kronisnya hampir sama dengan penderita Hepatitis B kronis, yaitu sekitar 1 juta orang.[1]
Pencegahan[sunting | sunting sumber]
Vaksin[sunting | sunting sumber]
Vaksin tersedia untuk pencegahan hepatitis A dan B yang merupakan vaksin tunggal ataupun vaksin gabungan. Kekebalan terhadap Hepatitis A mencapai 99-100% sebulan setelah menerima vaksin yang ke-2 kalinya (vaksin yang kedua 6 bulan kemudian setelah yang pertama). Vaksin hepatitis A tidak boleh digunakan untuk yang berusia di bawah satu tahun.[2] Vaksin Hepatitis B telah tersedia sejak tahun 1986 dan telah diterapkan sedikitnya pada 177 program nasional imunisasi untuk anak-anak. Kekebalan terjadi pada lebih 95% anak-anak dan dewasa muda yang menerima 3 dosis rekombinan vaksin, sebulan setelah vaksin yang ketiga (jadwal vaksinasi adalah 0, 1 bulan dan 6 bulan). Vaksinasi pada bayi yang berumur kurang dari 24 jam dapat mencegah penularan penyakit hepatitis B dari ibunya. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) merekomendasikan vaksinasi pada semua anak, terutama yang baru lahir di negara-negara dimana hepatitis B marak terjadi (seperti Indonesia, terutama di NTB dan NTT) untuk mencegah penularan secara vertikal dari ibu ke anak.[3]
MAG (GASTRITIS)
Apa itu gastritis (radang lambung)?
Gastritis adalah penyakit pencernaan yang juga bisa disebut radang lambung. Gastritis terjadi ketika lapisan dinding (mukosa) lambung meradang atau membengkak.
Gejala radang lambung dapat muncul secara mendadak (gastritis akut), atau berlangsung dalam waktu yang lama (gastritis kronis).
Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat disembuhkan dengan pengobatan tertentu.
Namun dalam beberapa kasus, penyakit radang lambung dapat berkembang menjadi penyakit GERD (refluks asam lambung) dan bahkan bisa meningkatkan risiko kanker perut.
Seberapa umumkah penyakit radang lambung (gastritis)?
Gastritis adalah kondisi yang umum. Namun, penyakit ini lebih banyak dijumpai pada orang-orang yang sering mengonsumsi obat pereda nyeri seperti aspirin atau ibuprofen dalam jangka panjang.
Penggunaan obat antinyeri dalam jangka panjang yang tidak perlu dapat mengiritasi saluran pencernaan. Efek samping ini disebabkan oleh bahan aktif dari obat yang menghambat enzim COX (siklooksigenase) di lambung.
Enzim COX adalah enzim yang bertanggung jawab terhadap rangsangan nyeri. Namun, enzim COX juga sekaligus bekerja mempertahankan lapisan dinding dalam lambung.
Ketika kerja enzim COX terhambat, maka lapisan dinding lambung akan terkikis dengan sendirinya. Hal ini kemudian membuat dinding lambung jadi rentan teriritasi dan luka akibat paparan cairan asam secara terus menerus. Akibatnya, radang dan perdarahan lambung dapat terjadi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, lambung akan berlubang. Dalam kondisi medis, kondisi ini disebut sebagai perforasi lambung.
Selain karena penggunaan obat antinyeri, radang lambung juga umum menyerang pecandu alkohol.
Risiko penyakit ini bisa dikurangi dengan mengurangi faktor-faktor pemicunya. Anda perlu berdiskusi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.
Perbedaan gastritis dengan maag
Apa perbedaan maag dan gastritis?
Maag dan radang lambung sama-sama menyerang lambung, tapi keduanya adalah kondisi yang berbeda.
Maag, disebut juga sebagai dispepsia, bukanlah suatu penyakit melainkan kumpulan gejala yang muncul akibat gangguan pencernaan (indigestion). Sederhananya, maag muncul sebagai pertanda dari masalah pencernaan tertentu.
Gejala yang sering digambarkan sebagai “sakit maag” dapat meliputi sakit perut, perut kembung, begah, mual dan muntah, dada terasa nyeri seperti terbakar, dan mulut terasa asam.
Sebagai gejala, maag bisa bertambah parah dan berakhir menjadi gastritis, penyakit refluks asam lambung (GERD), bahkan tukak (luka/borok) lambung.
Pada beberapa kasus langka, keduanya bisa menandakan adanya gejala kanker perut.
Tanda-tanda & gejala
Apa saja tanda-tanda dan gejala gastritis (radang lambung)?
Orang yang menderita kondisi ini sering tidak memunculkan gejala apa pun sampai didiagnosis. Sebab, gejalanya sering tampak samar dan dikelirukan sebagai tanda penyakit pencernaan lain.
Namun, Anda harus waspada jika merasakan gejala-gejala ini:
- hilang nafsu makan
- mual dan muntah
- nyeri di perut bagian atas
- merasa kenyang meski baru makan sedikit
Jika dinding lambung Anda sampai mengalami perdarahan, Anda mungkin merasakan gejala-gejala ini:
- feses berwarna hitam
- muntah darah atau cairan berwarna pekat seperti kopi
Masih ada beberapa gejala lain yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda khawatir tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter.
Kapan saya harus periksa ke dokter?
Anda harus menghubungi dokter jika gejala-gejala yang dialami belum hilang juga.
Anda juga perlu memberi tahu dokter jika perut Anda merasa tidak nyaman setelah minum obat, terutama aspirin atau obat penghilang rasa sakit lainnya.
Segera pergi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan medis darurat jika Anda muntah darah atau buang air besar berdarah.
Penyebab
Apa penyebab gastritis?
Penyebab umum gastritis atau radang lambung adalah:
- Mengonsumsi obat-obatan antinyeri seperti aspirin atau obat NSAID (ibuprofen, naproxen) dalam jangka panjang.
- Sering mengonsumsi alkohol.
- Konsumsi makanan yang asam, pedas, dan berlemak.
- Konsumsi minuman berkafein.
- Infeksi perut yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori.
- Penyakit autoimun.
- Refluks cairan empedu menuju lambung.
- Mengalami stres berat.
Faktor-faktor risiko
Apa yang meningkatkan risiko saya untuk gastritis?
Ada beberapa hal yang bisa membuat Anda terkena kondisi radang lambung. Faktor risiko penyakit gastritis adalah:
- Sering mengonsumsi makanan pedas atau yang kadar lemaknya tinggi, seperti gorengan.
- Gaya hidup tidak sehat, misalnya aktif merokok atau kebanyakan minum minuman beralkohol.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Sedang menjalani pengobatan tertentu seperti antibiotik, aspirin, steroid, dan pil KB.
- Stres atau kelelahan.
- Pola makan tidak teratur.
- Sering mengonsumsi obat penghilang rasa sakit.
- Penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi: HIV/AIDS, Crohn, dan infeksi bakteri lainnya.
- Alergi makanan, khususnya bagi orang pengidap gangguan pencernaan esophagitis eosinophilic (EoE). Kondisi ini dapat menjadi pemicu gastritis. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli alergi untuk menentukan alergi makanan guna menghindari kondisi gastritis.
Komplikasi
Apa saja komplikasi gastritis?
1. Tukak lambung
Gastritis dapat menyebabkan ulkus peptikum atau tukak lambung ketika peradangannya sampai menimbulkan luka pada lapisan lambung atau duodenum. Duodenum adalah bagian awal dari saluran usus kecil.
Penggunaan obat antinyeri dan dan infeksi bakteri H. pylori, dapat meningkatkan risiko tukak lambung.
Luka dapat terasa sangat menyakitkan, dan dapat terjadi di daerah adanya asam atau enzim.
2. Gastritis atrofik
Gastritis atrofik adalah kondisi peradangan kronis yang dapat menyebabkan hilangnya lapisan dan kelenjar di lambung. Lapisan dan kelenjr yang hilang tersebut kemudian tergantikan dengan jaringan daging yang berserat.
3. Anemia
Terkikisnya lapisan dalam lambung akibat radang kronis lama-lama dapat menyebabkan perdarahan. Kehilangan darah dalam jumlah banyak dapat berujung pada anemia (darah rendah).
Penelitian menunjukkan bahwa radang lambung akibat infeksi H. pylori dan masalah autoimun dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap zat besi dari makanan.
Kondisi tubuh yang mengalami perdarahan dalam serta tidak mampu menyerap zat besi menimbulkan komplikasi akibat radang lambung yang Anda alami.
4. Defisiensi vitamin B12 dan anemia pernisiosa
Orang dengan kondisi gastritis atrofi yang disebabkan masalah autoimun tidak dapat menghasilkan faktor intrinsik yang cukup. Faktor intrinsik adalah protein yang dibuat lambung untuk membantu usus menyerap vitamin B12.
Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk membuat sel darah merah dan sel saraf. Buruknya penyerapan vitamin B12 dapat menyebabkan jenis anemia yang disebut anemia pernisiosa.
5. Tumor perut
Kondisi gastritis kronis dapat meningkatkan adanya pertumbuhan tumor jinak dan kanker pada lapisan perut.
Begitu pula dengan radang lambung kronis yang disebabkan infeksi bakteri H. pylori.
Infeksi H. pylori dapat meningkatkan risiko kanker limfoma jaringan terkait mukosa lambung (MALT)
6. Perforasi lambung
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, radang kronis dapat membuat dinding lambung melemah dan menipis.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, lambung akan berlubang. Perforasi lambung dapat menyebabkan isi lambung bocor ke rongga perut dan menimbulkan infeksi. Kondisi rongga perut yang sudah terinfeksi disebut dengan peritonitis.
Infeksi ini dapat mengakibatkan komplikasi yang membuat berbagai organ dalam tubuh berhenti berfungsi.
Perforasi lambung dan peritonitis termasuk kondisi gawat darurat medis yang dapat mengancam nyawa.
Obat & Pengobatan
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.
Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit radang lambung (gastritis)?
Gastritis dapat didiagnosis dengan berdasarkan deskripsi gejala radang lambung yang dialami pasien. Namun untuk memastikan akurasinya, dokter menjalani tes-tes di bawah ini:
1. Endoskopi
Selama prosedur endoskopi, dokter akan memasukkan selang fleksibel yang dilengkapi dengan lensa (endoskopi) lewat tenggorokan Anda. Tabung ini akan masuk melewati kerongkongan, perut, dan usus kecil Anda.
Dengan menggunakan endoskopi, dokter Anda mencari tanda-tanda adanya radang atau infeksi pada lambung.
Jika terdapat tanda yang mencurigakan, dokter Anda mungkin akan sampel jaringan kecil (biopsi) untuk pemeriksaan laboratorium.
2. Tes H.pylori
Test H. pylori bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk tes darah, tes feses, atau dengan tes lewat napas.
Untuk tes napas, Anda akan diminta meminum segelas kecil cairan jernih dan tidak berasa yang mengandung karbon radioaktif.
Setelahnya Anda akan diminta untuk mengembuskan napas ke dalam kantong khusus yang kemudian disegel.
Jika Anda positif terinfeksi, sampel napas Anda akan mengandung karbon radioaktif karena bakteri H. pylori akan memecah cairan tersebut di perut Anda.
Apa saja pilihan obat untuk penyakit radang lambung (gastritis)?
Gastritis akut maupun kronis biasanya diobati dengan obat antibiotik atau obat-obatan penurun asam lambung. Pilihan obat gastritis yang biasanya diresepkan dokter meliputi:
- Antasida.
- Obat antihistamine-2 (H2): famotidine, cimetidine, ranitidine, dan nizatidine.
- Pompa penghambat proton (PPI): omeprazole, esomeprazole, Iansoprazole, rabeprazole, dan pantoprazole.
Selain itu, dokter juga dapat menggunakan cairan intravena dan obat-obatan lain yang lebih kuat untuk mengurangi asam jika gastritis Anda memburuk.
Anda harus menghindari alkohol serta ibuprofen, naproxen, dan aspirin selama minum obat gastritis dari dokter.
Pengobatan di rumah
Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit gastritis?
Gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mengatasi gastritis akut ataupun kronis yang Anda alami:
- Hindari makanan, minuman, dan kebiasaan yang dapat meningkatkan asam lambung
- Makan sedikit-sedikit tapi sering
- Makan masakan yang matang
- Cuci tangan sebelum makan untuk menghindari infeksi
- Ikuti arahan dokter, jangan mengonsumsi obat tanpa resep atau berhenti minum obat tanpa izin dokter.
Pencegahan
Bagaimana cara mencegah penyakit radang lambung (gastritis)?
1. Jangan merokok
Rokok mengandung nikotin yang bisa melemahkan saluran pencernaan. Merokok juga diketahui dapat menyebabkan refluks asam lambung, yang dapat semakin mengiritasi dinding lambung.
Selain rokok, alkohol dan coklat juga memiliki efek yang mirip dengan nikotin.
2. Menerapkan pola makan sehat
Menerapkan pola makan yang lebih sehat dapat membantu Anda meredakan gejalanya sekaligus mencegah radang lambung di kemudian hari. Pola makan yang baik untuk mencegah gastritis dapat meliputi:
- Makanan dengan kandungan serat tinggi seperti apel, oatmeal, brokoli, wortel, dan kacang-kacangan.
- Makanan rendah lemak seperti ikan, dada ayam, dan dada kalkun
- Makanan bersifat basa, seperti sayuran yang direbus.
- Perbanyak sumber probiotik seperti teh kombucha, yoghurt, kimchi, kefir, dan tempe.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan atau minuman probiotik dapat membantu mengatasi infeksi radang lambung yang disebabkan Helicobacter pylori (H. pylori).
Selain lebih bijak memilah-milih makanan yang lebih sehat, kebiasaan makan Anda juga perlu diubah menjadi:
- Biasakan makan lebih sering dengan porsi yang lebih sedikit. Jika Anda biasa makan besar 3 kali sehari, coba ubah menjadi makan 5-6 kali sehari dengan porsi yang kecil.
- Jangan makan sampai kekenyangan karena isi lambung yang terlalu penuh bisa naik ke tenggorokan.
- Hindari minuman bersoda dan minuman yang berkafein seperti coklat, kopi, teh.
- Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang bersifat asam seperti makanan pedas dan buah-buahan jeruk. Makanan atau minuman bersifat asam memicu rasa nyeri pada ulu hati.
- Jangan makan sebelum tidur, karena meningkatkan resiko refluks asam lambung.
3. Kurangi berat badan
Orang yang kegemukan berisiko lebih tinggi mengalami radang lambung.
Kebiasaan makan dalam porsi besar dalam jangka panjang meningkatkan tekanan dalam lambung sehingga isi lambung mudah naik keluar.
Mengurangi berat badan 2-5 kg dapat membantu Anda mencegah gastritis kambuh kembali.
4. Konsumsi obat pereda nyeri dengan pengawasan dokter
Obat antinyeri NSAID seperti ibuprofen, aspirin, naproxen seringkali disalahgunakan. Padahal penggunaan dalam jangka panjang yang sembarangan dapat meningkatkan produksi asam lambung sehingga Anda rentan mengalami radang lambung. Maka, gunakan obat antinyeri ini sesuai petunjuk dokter.
Berhati-hatilah juga dalam minum jamu. Produk jamu seringkali mengandung bahan NSAID sehingga meminumnya dalam jangka panjang juga memiliki efek yang sama seperti penggunaan OAINS jangka panjang.
5. Ubah posisi tidur Anda
Posisi tidur terbaik untuk mencegah radang lambung kambuh kembali adalah berbaring di sisi kiri, dengan menyangga kepala dan leher pakai bantal tebal.
Posisi ini dapat menjaga cairan asam tetap berada di dasar lambung sehingga sulit untuk mengalir ke atas.
Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.
Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.
KARIES GIGI
Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur jaringan keras gigi.[1] Penyakit ini ditandai dengan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, kematian saraf gigi (nekrose) dan infeksi periapikal dan infeksi sistemik yang bisa membahayakan penderita, dan bahkan bisa berakibat kematian. Penyakit ini telah dikenal sejak masa lalu, berbagai bukti telah menunjukkan bahwa penyakit ini telah dikenal sejak zaman perunggu, zaman besi, dan zaman pertengahan.[2] Peningkatan prevalensi karies banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan.[2][3] Kini, karies gigi telah menjadi penyakit yang tersebar di seluruh dunia.
Ada beberapa cara untuk mengelompokkan karies gigi.[4] Walaupun apa yang terlihat dapat berbeda, faktor-faktor risiko dan perkembangan karies hampir serupa. Mula-mula, lokasi terjadinya karies dapat tampak seperti daerah berkapur namun berkembang menjad lubang coklat. Walaupun karies mungkin dapat saja dilihat dengan mata telanjang, kadang-kadang diperlukan bantuan radiografi untuk mengamati daerah-daerah pada gigi dan menetapkan seberapa jauh penyakit itu merusak gigi.
Lubang gigi disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk sukrosa, fruktosa, dan glukosa.[5][6][7] Asam yang diproduksi tersebut memengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH rendah. Sebuah gigi akan mengalami demineralisasi dan remineralisasi. Ketika pH turun menjadi di bawah 5,5, proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi.
Bergantung pada seberapa besarnya tingkat kerusakan gigi, sebuah perawatan dapat dilakukan. Perawatan dapat berupa penyembuhan gigi untuk mengembalikan bentuk, fungsi, dan estetika. Walaupun demikian, belum diketahui cara untuk meregenerasi secara besar-besaran struktur gigi, sehingga organisasi kesehatan gigi terus menjalankan penyuluhan untuk mencegah kerusakan gigi, misalnya dengan menjaga kesehatan gigi dan makanan.[8]
Daftar isi
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa karies gigi sudah ada sejak masa prasejarah. Sebuah tengkorak yang diperkirakan berasal dari satu juta tahun yang lalu dari masa neolitikum memberi petunjuk adanya karies.[2] Adanya peningkatan prevalensi karies sejak masa neolitikum mungkin disebabkan banyaknya konsumsi makanan dari tumbuhan yang banyak mengandung karbohidrat.[9] Sebuah gurdi atau bor dari kayu ditemukan pada masa neolitikum. gurdi tersebut diperkirakan digunakan sebagai pelubang gigi untuk mengeluarkan abses dari gigi.[10] Perubahan kebudayaan berupa penemuan teknik pertanian di Asia Selatan dipercayai juga sebagai salah satu peningkat prevalensi karies.
Sebuah teks dari Sumeria (5000 SM) menggambarkan sebuah "cacing gigi" sebagai penyebab karies.[11] Bukti pada kepercayaan ini juga ditemukan pada India, Mesir, Jepang, dan Tiongkok.[3]
Banyak fosil tengkorak yang dapat menunjukkan adanya perawatan gigi yang primitif. Di Pakistan, sebuah gigi yang diperkirakan berasal dari 5500 SM hingga 7000 SM menunjukkan sebuah lubang yang mungkin disebabkan gurdi gigi.[12] Karies juga dituliskan oleh Homer dan Guy de Chauliac dalam tulisan mereka.[3] Papirus Ebers, sebuah tulisan Mesir kuno (1550 SM) menyebutkan sebuah penyakit gigi.[11] Selama pemerintahan dinasti Sargonid Assyria pada 668 SM hingga 626 SM, dituliskan bahwa dokter kerajaan memerlukan tindakan pencabutan gigi untuk mencegah penyebaran radang.[3] Selama masa pendudukan Bangsa Romawi di Eropa, proses pemasakan makanan menurunkan tingkat terjadinya karies.[13] Pada masa peradaban Yunani dan Romawi dan Mesir, memiliki perawatan untuk meredakan rasa nyeri karena karies.[3]
Tingkat kejadian karies menurun pada zaman perunggu dan besi, namun meningkat tajam pada zaman pertengahan.[2] Peningkatan prevalensi karies secara periodik ini serupa dengan kejadian pada masa tahun 1000, ketika gula menjadi lebih mudah didapatkan di dunia Barat. Perawatan yang diberikan berupa obat-obatan herbal dan jampi-jampi, serta pencabutan gigi.[3][14] Umat Katolik menyampaikan doa dengan penyertaan Santo Appolonia, santo pelindung untuk dokter gigi.[15]
Ada pula bukti yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat karies di suku Indian, Amerika Utara setelah memulai kontak dengan kolonial Eropa. Sebelum kolonisasi, Indian Amerika Utara menggantungkan hidupnya pada berburu, kemudian berubah menjadi bertani jagung. Pergantian diet makan ini menyebabkan peningkatan karies.[2]
Pada masa pencerahan, kepercayaan bahwa "cacing gigi" sebagai penyebab karies ditepis oleh kelompok ilmuwan kedokteran.[16] Pierre Fauchard, yang dikenal sebagai bapak kedokteran gigi masa kini, adalah salah satu pihak pertama yang menolak ide cacing gigi tersebut. Ia menyebutkan bahwa konsumsi gula yang menjadi penyebab karies gigi.[17] Pada tahun 1850, prevalensi karies meningkat lagi dan disebabkan oleh pergeseran pola makan.[3]
Pada 1890-an, W.D. Miller memulai rangkaian penelitian untuk menyelidiki perihal penyakit karies gigi. Ia menemukan bahwa ada bakteri yang hidup di rongga mulut dan mengeluarkan asam sehingga melarutkan struktur gigi ketika terdapat sisi karbohidrat.[18] Penjelasan ini dikenal sebagai teori karies kemoparasitik.[19] Penemuan Miller, bersamaan penelitian terhadap plak gigi oleh G.V. Black dan J.L. Williams, membuat sebuah dasar sebagai penjelasan patofisiologi karies yang diterima hingga kini.[3]
Epidemiologi[sunting | sunting sumber]
Diperkirakan bahwa 90% dari anak-anak usia sekolah di seluruh dunia dan sebagian besar orang dewasa pernah menderita karies. Prevalensi karies tertinggi terdapat di Asia dan Amerika Latin. Prevalensi terendah terdapat di Afrika.[20] Di Amerika Serikat, karies gigi merupakan penyakit kronis anak-anak yang sering terjadi dan tingkatnya 5 kali lebih tinggi dari asma.[21] Karies merupakan penyebab patologi primer atas penanggalan gigi pada anak-anak.[22] Antara 29% hingga 59% orang dewasa dengan usia lebih dari limapuluh tahun mengalami karies.[23]
Jumlah kasus karies menurun di berbagai negara berkembang, karena adanya peningkatan kesadaran atas kesehatan gigi dan tindakan pencegahan dengan terapi florida.[24]
Klasifikasi[sunting | sunting sumber]
Karies gigi dapat dikelompokkan berdasarkan lokasi, tingkat laju perkembangan, dan jaringan keras yang terkena.[4]
Lokasi[sunting | sunting sumber]
Secara umum, ada dua tipe karies gigi bila dibedakan lokasinya, yaitu karies yang ditemukan di permukaan halus dan karies di celah atau fisura gigi.[25]
Karies celah dan fisura[sunting | sunting sumber]
Celah dan fisura adalah tanda anatomis gigi. Fisura terbentuk saat perkembangan alur, dan tidak sepenuhnya menyatu, dan membuat suatu turunan atau depresio yang khas pada strutkur permukaan email. Tempat ini mudah sekali menjadi lokasi karies gigi.[26] Celah yang ada daerah pipi atau bukal ditemukan di gigi geraham.
Karies celah dan fisura kadang-kadang sulit dideteksi. Semakin berkembangnya proses perlubangan akrena karies, email atau enamel terdekat berlubang semakin dalam. Ketika karies telah mencapai dentin pada pertemuan enamel dengan dental, lubang akan menyebar secara lateral. Di dentin, proses perlubangan akan mengikuti pola segitiga ke arah pulpa gigi.
Karies permukaan halus[sunting | sunting sumber]
Ada tiga macam karies permukaan halus. Karies proksimal, atau dikenal juga sebagai karies interproksimal, terbentuk pada permukaan halus antara batas gigi. Karies akar terbentuk pada permukaan akar gigi. Tipe ketiga karies permukaan halus ini terbentuk pada permukaan lainnya.
Karies proksimal adalah tipe yang paling sulit dideteksi.[27] Tipe ini kadang tidak dapat dideteksi secara visual atau manual dengan sebuah eksplorer gigi. Karies proksimal ini memerlukan pemeriksaan radiografi.[28]
Karies akar adalah tipe karies yang sering terjadi dan biasanya terbentuk ketika permukaan akar telah terbuka karena resesi gusi. Bila gusi sehat, karies ini tidak akan berkembang karena tidak dapat terpapar oleh plak bakteri. Permukaan akar lebih rentan terkena proses demineralisasi daripada enamel atau email karena sementumnya demineraliasi pada pH 6,7, di mana lebih tinggi dari enamel.[29] Karies akar lebih sering ditemukan di permukaan fasial, permukaan interproksimal, dan permukaan lingual. Gigi geraham atas merupakan lokasi tersering dari karies akar.
Deskripsi umum lainnya[sunting | sunting sumber]
Di samping pengelompokan diatas, lesi karies dapat dikelompokkan sesuai lokasinya di permukaan tertentu pada gigi. Karies pada permukaan gigi yang dekat dengan permukaan pipi atau bibir disebut "karies fasial", dan karies yang lebih dekat ke arah lidah disebut "karies lingual". Karies fasial dapat dibagi lagi menjadi bukal (dekat pipi) dan labial (dekat bibir). Karies lingual juga dapat disebut palatal bila ditemukan di permukaan lingual dari gigi pada rahang atas (maksila) dan dekat dengan pallatum durum atau bagian langit-langit mulut yang keras.
Laju penyakit[sunting | sunting sumber]
Laju karies dapat membagi karies menjadi karies akut dan kronis. Karies rekuren berarti karies yang terjadi pada bekas karies terdahulu.[butuh rujukan]
Jaringan keras yang terpengaruh[sunting | sunting sumber]
Berdasarkan pada jaringan keras yang terpengaruh, karies dapat dibedakan menjadi karies yang memengaruhi enamel, dentin, atau sementum. Pada awal perkembangannya, karies mungkin hanya memengaruhi enamel. Namun ketika karies semakin luas, dapat memengaruhi dentin. Sementum adalah jaringan keras yang melapisi akar gigi, maka sementum dapat terkena bila akar gigi terbuka.[butuh rujukan]
Karies di dekat leher gigi disebut karies servikal.[butuh rujukan]
Penyebab[sunting | sunting sumber]
Ada empat hal utama yang berpengaruh pada karies: permukaan gigi, bakteri kariogenik (penyebab karies), karbohidrat yang difermentasikan, dan waktu.[30]
Gigi[sunting | sunting sumber]
Ada penyakit dan gangguan tertentu pada gigi yang dapat mempertinggi faktor risiko terkena karies. Amelogenesis imperfekta, yang timbul pada 1 dari 718 hingga 14.000 orang, ada penyakit di mana enamel tidak terbentuk sempurna.[31] Dentinogenesis imperfekta adalah ketidaksempurnaan pembentukan dentin. Pada kebanyakan kasus, gangguan ini bukanlah penyebab utama dari karies.[32]
Anatomi gigi juga berpengaruh pada pembentukan karies. Celah atau alur yang dalam pada gigi dapat menjadi lokasi perkembangan karies. Karies juga sering terjadi pada tempat yang sering terselip sisa makanan.
Bakteri[sunting | sunting sumber]
Mulut merupakan tempat berkembanganya banyak bakteri, namun hanya sedikit bakteri penyebab karies, yaitu Streptococcus mutans dan Lactobacilli di antaranya.[5][7] Khusus untuk karies akar, bakteri yang sering ditemukan adalah Lactobacillus acidophilus, Actinomyces viscosus, Nocardia spp., dan Streptococcus mutans. Contoh bakteri dapat diambil pada plak.
Karbohidrat yang dapat difermentasikan[sunting | sunting sumber]
Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi.[6] Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut.[33] Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses pelubangan.
Waktu[sunting | sunting sumber]
Tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat memengaruhi perkembangan karies.[34] Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. PH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam.[35]
Faktor lainnya[sunting | sunting sumber]
Selain empat faktor di atas, terdapat faktor lain yang dapat meningkatkan karies.
Air liur dapat menjadi penyeimbangan lingkungan asam pada mulut. Terdapat keadaan di mana air liur mengalami gangguan produksi, seperti pada sindrom Sjögren, diabetes mellitus, diabetes insipidus, dan sarkoidosis.[36]
Obat-obatan seperti antihistamin dan antidepresan dapat memengaruhi produksi air liur.[37] Terapi radiasi pada kepala dan leher dapat merusak sel pada kelenjar liur.[38]
Penggunaan tembakau juga dapat mempertinggi risiko karies.[39] Tembakau adalah faktor yang signifikan pada penyakit periodontis, seperti dapat menyusutkan gusi.[40] Dengan gusi yang menyusut, maka permukaan gigi akan terbuka. Sementum pada akar gigi akan lebih mudah mengalami demineralisasi.[29]
Karies botol susu atau karies kanak-kanak adalah pola lubang yang ditemukan di anak-anak pada gigi susu. Gigi yang sering terkena adalah gigi depan di rahang atas, namun kesemua giginya dapat terkena juga.[41] Sebutan "karies botol susu" karena karies ini sering muncul pada anak-anak yang tidur dengan cairan yang manis (misalnya susu) dengan botolnya. Sering pula disebabkan oleh seringnya pemberian makan pada anak-anak dengan cairan manis.
Ada juga karies yang merajalela atau karies yang menjalar ke semua gigi.[42] Tipe karies ini sering ditemukan pada pasien dengan xerostomia, kebersihan mulut yang buruk, pengonsumsi gula yang tinggi, dan pengguna metamfetamin karena obat ini membuat mulut kering.[43] Bila karies yang parah ini merupakan hasil karena radiasi kepala dan leher, ini mungkin sebuah karies yang dipengaruhi radiasi.
Tanda dan gejala[sunting | sunting sumber]
Seseorang sering tidak menyadari bahwa ia menderita karies sampai penyakit berkembang lama.[44] Tanda awal dari lesi karies adalah sebuah daerah yang tampak berkapur di permukaan gigi yang menandakan adanya demineralisasi. Daerah ini dapat menjadi tampak coklat dan membentuk lubang. Proses tersebut dapat kembali ke asal atau reversibel, namun ketika lubang sudah terbentuk maka struktur yang rusak tidak dapat diregenerasi. Sebuah lesi tampak coklat dan mengkilat dapat menandakan karies. Daerah coklat pucat menandakan adanya karies yang aktif.
Bila enamel dan dentin sudah mulai rusak, lubang semakin tampak. Daerah yang terkena akan berubah warna dan menjadi lunak ketika disentuh. Karies kemudian menjalar ke saraf gigi, terbuka, dan akan terasa nyeri. Nyeri dapat bertambah hebat dengan panas, suhu yang dindin, dan makanan atau minuman yang manis.[1] Karies gigi dapat menyebabkan napas tak sedap dan pengecapan yang buruk. [45] Dalam kasus yang lebih lanjut, infeksi dapat menyebar dari gigi ke jaringan lainnya sehingga menjadi berbahaya.[46]
Diagnosis[sunting | sunting sumber]
Diagnosis pertama memerlukan inspeksi atau pengamatan pada semua permukaan gigi dengan bantuan pencahayaan yang cukup, kaca gigi, dan eksplorer. Radiografi gigi dapat membantu diagnosis, terutama pada kasus karies interproksimal. Karies yang besar dapat langsung diamati dengan mata telanjang. Karies yang tidak ekstensif dibantu dulu dengan menemukan daerah lunak pada gigi dengan eksplorer.[47]
Beberapa peneliti gigi telah memperingatkan agar tidak menggunakan eksplorer untuk menemukan karies.[27] Pada kasus di mana sebuah daerah kecil pada gigi telah mulai terjadi demineralisasi namun belum membentuk lubang, tekanan melalui eksplorer dapat merusak dan membuat lubang.
Teknik yang umum digunakan untuk mendiagnosis karies awal yang belum berlubang adalah dengan tiupan udara melalui permukaan yang disangka, untuk membuang embun, dan mengganti peralatan optik. Hal ini akan membentuk sebuah efek "halo" dengan mata biasa. Transiluminasi serat optik direkomendasikan untuk mendiagnosis karies kecil.[butuh rujukan]
Perawatan[sunting | sunting sumber]
Struktur gigi yang rusak tidak dapat sembuh sempurna, walaupun remineralisasi pada karies yang sangat kecil dapat timbul bila kebersihan dapat dipertahankan.[1] Untuk lesi yang kecil, florida topikal dapat digunakan untuk merangsang remineralisasi. Untuk lesi yang besar dapat diberikan perawatan khusus. Perawatan ini bertujuan untuk menjaga struktur lainnya dan mencegah perusakan lebih lanjut.[butuh rujukan]
Secara umum, pengobatan lebih awal akan lebih nyaman dan murah dibandingkan perawatan lanjut karena lubang yang lebih buruk. Anestesi lokal, oksida nitro, atau obat lainnya dapat meredam nyeri.[48] Pembuangan bor dapat membuang struktur yang sudah berlubang. Sebuah alat seperti sendok dapat membersihkan lubang dengan baik.[49] Ketika lubang sudah dibersihkan, maka diperlukan sebuah teknik penyembuhan untuk mengembalikan fungsi dan keadaan estetikanya.
Material untuk penyembuhan meliputi amalgam, resin untuk gigi, porselin, dan emas.[50] Resin dan porselin dapat digunakan untuk menyamakan warna dengan gigi asal dan lebih sering digunakan. Bila bahan di atas tidak dapat digunakan, maka diperlukan zat crown yang terbutat dari emas, porselin atau porselin yang dicampur logam.[butuh rujukan]
Pada kasus tertentu, diperlukan terapi kanal akar pada gigi.[51] Terapi kanal gigi atau terapi endodontik, direkomendasikan bila pulpa telah mati karena infeksi atau trauma. Saat terapi, pulpa, termasuk saraf dan pembuluh darahnya, dibuang. Bekas gigi akan diberikan material seperti karet yang disebut gutta percha.[52] Pencabutan atau ekstraksi gigi juga menjadi pilihan perawatan karies, bila gigi tersebut telah hancur karena proses pelubangan.[butuh rujukan]
Pencegahan[sunting | sunting sumber]
Kebersihan mulut[sunting | sunting sumber]
Kebersihan perorangan terdiri dari pembersihan gigi yang baik.[8] Kebersihan mulut yang baik diperluklan untuk meminimalisir agen penyebab penyakit mulut dan membuang plak gigi. Plak tersebut mengandung bakteri.[53] Karies dapat dicegah dengan pembersihan dan pemeriksaan gigi teratur.
Pengaturan makanan[sunting | sunting sumber]
Untuk kesehatan gigi, pengaturan konsumsi gula penting diperhatikan.[34] Gula yang tersisa pada mulut dapat memproduksi asam oleh bakteri. Pengonsumsian permen karet dengan xilitol dapat melindungi gigi. Permen ini telah popler di Finlandia.[54] Efek ini mungkin disebabkan ketidakmampuan bakteri memetabolisme xilitol.[55]
Tindakan pencegahan lainnya[sunting | sunting sumber]
Terapi florida dapat menjadi pilihan untuk mencengah karies. Cara ini telah terbukti menurunkan kasus karies gigi.[56] Florida dapat membuat enbamel resisten terhadap karies.[57] Florida sering ditambahkan pada pasta gigi dan cairan pembersih mulut.
Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa pemberian radiasi laser intensitas rendah dengan laser ion argon dapat mencengah karies enamel dan lesi daerah bercak putih.[58] Sedang dikembangkan pula, vaksin untuk melawan bakteri karies. Pada 2004, vaksin ini telah berhasil diujicobakan pada hewan[59], dan uji coba klinis pada manusia pada Mei 2006.[60]
